Melihat anak-anak tetangga bermain ceria, ternyata membuat batin dan jiwa saya riang gembira. Ya, pasti hati tak bisa bohong, saya pun wanita yang ingin menjadi seroang Ibu. Saya pun wanita yang ingin mengandung dengan rahim, sel telur, dan indung telur saya sendiri. Namun seperti kenyataannya, Allah sedang mengajarkan saya lebih dalam lagi makna ‘Kesabaran’.

Well, berbicara soal anak, apa sih yang Ibu-Ibu pahami dari mereka? Apakah hanya sekedar:

  • Amanah
  • Karunia dan anugerah
  • Atau mungkin hadiah dari Sang Pencipta
  • Barangkali juga jawaban dari doa
  • Atau sebagai sekolah kehidupan

Ya, saya pribadi memang belum mempunyai anak. Umumnya mereka yang bisa berbicara dan bercerita adalah Ibu-Ibu yang sudah berpengalaman memiliki dan mengasuh anak-anaknya. Namun dsini saya ingin mengungkap perihal anak dari pengalaman saya sendiri. Bahwasannya tanpa atau belum menjadi seorang Ibu pun, kita bisa belajar dari gerak-gerik dan tingkah laku anak-anak baik anak saudara, anak tetangga, ataupun anak didik.
Dalam waktu beberapa bulan ini, Allah mengajarkan saya bagaimana cara mendidik dan cara berkomunikasi yang benar dan baik dengan anak-anak yang usianya masih balita. Sepasang kakak beradik yang tanpa saya sadari membuat hidup saya lebih berwarna. Keduanya adalah anak tetangga baru saya. Tanpa mengenal akrab kedua orang tuanya, namun entah bagaimana caranya Allah seperti memberikan ikatan kedekatan antara saya dan suami dengan kedua balita tersebut.

Dengan mula-mula, saya dan suami memperkenalkan diri dengan sebutan Om dan Tante. Dan tak perlu waktu lama, keduanya pun akrab memanggil saya dan suami dengan panggilan Om dan Tante. Ditengah-tengah keakraban dan kedekatan kami dengan kakak beradik tersebut, suatu ketika kami merasa bosan dan terganggu. Karena kehadiran mereka, masuk ke dalam rumah, bermain dan menonton televisi tanpa bisa mengenal waktu. Saya dan suami sempat khawatir. Karena anak seusia mereka ketika bermain kesana-kemari orang tuanya tak mendampingi. Apakah orang tuanya terlalu cuek? Pertanyaan itu menyelimuti obrolanku dengan suami saat itu.

Ya, saya dan suami merasa kebingungan bagaimana caranya supaya mereka mengerti bahwa kami bukan orang tuanya. Bahwasannya antara mereka dan kami perlu ada ‘space’ agar mereka tetap bisa mengenal dekat orang tuanya secara ‘intense’ dan bukan malah lebih nyaman bermain bersama kami. Karena jika hal itu benar terjadi, akan sangat miris sekali. Mereka berusia dibawah lima tahun. Yang saya pelajari, usia-usia tersebut adalah usia kreatif otak anak. Anak-anak akan sangat mudah dan cepat belajar dari apapun yang mereka pelajari dan hadapi. Mudah meniru gaya berbicara dari apapun yang mereka dengar.

Dikampung tempat kami tinggal memang begitu banyak anak-anak. Ketika sore hari di waktu weekend, anak-anak selalu berkumpul, bermain bersama di halaman depan rumah pemilik kontrakan saya. Kedua kakak beradik itu pun asik ikut bermain dengan teman-teman yang bukan sebayanya. Karena kebanyakan anak-anak yang lain berusia lebih tua, yang sudah masuk dibangku sekolah SD maupun SMP.

Tapi meskipun teman-teman bermain mereka bukan teman sebaya, mereka sangat menikmati keceriaan bermain dengan anak-anak yang lain. Namanya juga anak-anak, dunia anak adalah dunia bermain. Anak-anak yang lain pun suka bermain dengan kedua kakak beradik tersebut. Karena sebetulnya keudanya begitu lucu dan menggemaskan ketika diajak bercanda.

Suatu hari, saya sedang dalam kondisi nggak mood sekali. Ya, seperti sebelumnya saya sudah menceritakan beberapa penyakit yang saya derita. Yang seringkali membuat saya harus membatasi diri dari kontak langsung pada anak-anak. Saat itu saya hanya ingin sendiri dan mengutak-atik blog dan juga menulis list daftar pesanan oriflame dari customer. Seperti biasa si Kakak datang ke depan rumah. Setiap jendela dan pintu rumah saya terbuka mereka seakan otomatis ingin bermain dirumah saya dan mengajak saya dan suami untuk bermain bersama.

Ketika itu suami sedang tak ada dirumah alias sudah berangkat kerja. Mau tak mau saya meladeni ocehan kedua kakak beradik itu.

“Tante,, mau masuk, mau main….” Kata si Adik
“Maaf ya, mainnya besok, Tante lagi kerja. Jawab saya
“Tante, koq kerjanya pake laptop sama HP?” Tanya si Kakak
“Iya, Tante kalau kerja harus pake HP sm laptop. Nanti lagi ya mainnya, Tante lagi sibuk.” Jawab saya tegas
“Ya udah Tante,, Aku mau lihat aja.” Jawab si Kakak
“Mau lihat apa?” Tanya saya

“Mau lihat sibuknya Tante..” Jawab si Kakak dengan sangat polos.

Jawaban si Kakak tersebut sangat suprise bagi saya. Seketika saya tersenyum dan menahan tawa. Anak-anak itu saking ingin bermain dengan saya tapi juga mencoba menghargai kesibukan saya. Sehingga meskipun nggak bisa bermain dengan saya, setidaknya tetap bisa ngobrol dengan saya sembari saya menyelesaikan pesanan oriflame dan menulis blog.

Dalam bagian cerita hari itu yang saya pelajari dari anak-anak adalah, semua anak itu pintar. Semua anak tercipta untuk ceria dan gembira. Kebersamaan dengan keluarga terutama orang tua merupakan hal yang sangat fundamental. Karena usia-usia itulah anak-anak belajar membangun karakter, belajar berani, belajar percaya diri dan belajar peka.

Itu tadi sepenggal cerita tentang anak bagian 1. Di lain waktu saya akan mengulas lagi perkembangan dua kakak beradik ini. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi Ibu-Ibu semua.

Sayangi anak-anak Anda… temani mereka bermain karena itu kesempatan Anda yang tak bisa diulang untuk mengajarkan, mendidik dan mengenal bagaimana anak-anak Anda serta potensi apa yang ada diri ini anak sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s